FILARIASIS “PENYAKIT YANG TERLUPAKAN”
Indonesia saat ini masih menghadapi
permasalahan pengendalian penyakit menular dan munculnya re-emerging disease
disamping menghadapi emerging infection deseases dan new emerging infection deseases, serta
adanya kecenderungan meningkatnya penyakit tidak menular (degeneratif) yang
disebabkan karena life style. Hal ini
menunjukkan terjadinya transisi epidemiologi penyakit, sehingga Indonesia
menghadapi beban ganda pada waktu yang bersamaan (double burden).
Filariasis atau elephantiasis atau
yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai penyakit kaki gajah, dan di
beberapa daerah menyebutnya untut adalah penyakit yang disebabkan karena
infeksi cacing filaria.
Patogenesis
Penyakit kaki gajah disebabkan
oleh cacing dari kelompok nematoda, yaitu Wucheraria bancrofti, Brugia
malayi dan Brugia timori. Ketiga jenis cacing tersebut menyebabkan penyakit
kaki gajah dengan cara penularan dan gejala klinis, serta pengobatan yang sama.
Cacing betina akan menghasilkan (melahirkan) larva, disebut mikrofilaria, yang
akan bermigrasi kedalam sistem peredaran darah. Penyakit kaki gajah terutama
disebabkan karena adanya cacing dewasa yang hidup di saluran getah bening.
Cacing tersebut akan merusak saluran getah bening yang mengakibatkan cairan
getah bening tidak dapat tersalurkan dengan baik sehingga menyebabkan
pembengkakan pada tungkai dan lengan. Cacing dewasa mampu bertahan hidup selama
5 – 7 tahun di dalam kelenjar getah bening.
Filariasis atau elephantiasis atau
penyakit kaki gajah adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria
yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini tersebar luas di pedesaan
dan perkotaan. Dapat menyerang semua golongan tanpa mengenal usia dan jenis
kelamin. Di dunia terdapat 1,3 miliar penduduk yang berisiko tertular penyakit
kaki gajah di lebih dari 83 negara dan 60% kasus berada di Asia Tenggara.
Epidemiologi
Saat ini di Indonesia prevalensi mikrofilaria rate rata-rata 19% ini
berarti 40 juta penduduk bisa menderita filariasis di masa mendatang apabila
tidak dilaksanakan Pemberian Obat Massal Pencegahan filariasis dan
kegiatan-kegiatan yang terencana menuju eliminasi filariasis di Indonesia tahun
2020 (Kemenkes, 2010)
Hampir seluruh wilayah Indonesia
adalah daerah endemis filariasis, terutama wilayah Indonesia Timur yang
memiliki prevalensi lebih tinggi. Sejak tahun 2000 hingga 2009 di laporkan
kasus kronis filariasis sebanyak 11.914 kasus yang tersebar di 401
Kabupaten/kota. Hasil laporan kasus klinis kronis filariasis dari
kabupaten/kota yang ditindaklanjuti dengan survey endemisitas filariasis,
sampai dengan tahun 2009 terdapat 337 kabupaten/kota endemis dan 135
kabupaten/kota non endemis.
Prevalensi rata-rata mikrofilaria
secara nasional di Indonesia berdasarkan hasil survei darah jari (SDJ) 19,78 %.
Prevalensi mikrofilaria di Maluku, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur dan
Maluku Utara umumnya lebih tinggi (1,14 - 38, 57 %), bila dibandungkan dengan pulau lainnya di
Indonesia (Kemenkes, 2010)
Situasi
Ekonomi Makro
Selama tahun 2002 – 2008, penduduk
Indonesia bertambah rata-rata sebesar 1.33% per tahun, sementara Produk
Domestik Bruto (PDB) per kapita mengalami kenaikan hampir 3 kali lipat (dari
US$ 743.3 menjadi US$ 2.200.8). Menurut WHO, persentase pengeluaran kesehatan
terhadap PDB Indonesia tahun 2006 adalah 2,5% (World Health Statistic, 2009).
Data Kementerian Kesehatan mengindikasikan bahwa belanja kesehatan
memperlihatkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Meskipun
menunjukkan peningkatan, dana untuk program filariasis hanya berkisar kurang
dari 1% dari dana Kementrian Kesehatan selama ini (Kemenkes, 2010)
Penyakit kaki gajah merupakan
salah satu penyakit yang sebelumnya terlupakan. Dapat menyebabkan kecacatan,
stigma, psikososial dan penurunan produktivitas penderitanya dan lingkungannya.
Diperkirakan kerugian ekonomi mencapai 43 trilyun rupiah (Kemenkes, 2010), jika
tidak dilakukan Pemberian Obat Massal Pencegahan filariasis. Penanganan telah
dilakukan namun dikarenakan kendala yang ada mengakibatkan hasilnya belum
maksimal.
Penanggulangan
Program Eliminasi Filariasis
merupakan salah satu program prioritas nasional pemberantasan penyakit menular
sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 7 tahun 2005 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2004-2009. Tujuan umum dari program eliminasi filariasis
adalah filariasis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia
pada tahun 2020. Sedangkan tujuan khusus program adalah (a) menurunnya angka
mikrofilaria (mf rate) menjadi < 1% di setiap Kabupaten/Kota, (b) mencegah
dan membatasi kecacatan karena filariasis.
Pengendalian filariasis dengan
pemberian obat Diethylcarbamazine Citrat (DEC) sudah mengalami beberapa kali
perubahan metode sejak dimulainya program pengendalian filariasis pada tahun
1970. Pemberian obat DEC dikombinasikan dengan Albendazole dalam dosis tunggal
secara massal setahun sekali selama minimal 5 tahun berturut-turut sangat ampuh
untuk memutus rantai penularan filariasis,
sehingga dapat upaya mendukung eliminasi filariasis tahun 2020
Program
Eliminasi
Program akselerasi eliminasi
filariasis diupayakan sampai dengan tahun 2020, dilakukan dengan bertahap lima
tahunan yang dimulai tahun 2010-2014. Program eliminasi filariasis direncanakan
sampai dengan 2014 atas dasar justifikasi: (1) Di daerah endemis dengan angka lebih besar
dari 1%, dapat dicegah penularannya dengan program Pemberian Obat Massal
Pencegahan filariasis (POMP filariasis) setahun sekali, selama minimal lima
tahun berturut-turut. (2) Penyebaran
kasus dengan manifestasi kronis filariasis di 401 kabupaten/kota dapat dicegah
dan dibatasi dampak kecacatannnya dengan penatalaksanaan kasus klinis; (3) Minimal 85% dari penduduk berisiko
tertular filariasis di daerah yang teridentifikasi endemis filariasis harus mendapat
POMP filariasis.
Saat ini penyakit filariasis telah
menjadi salah satu penyakit yang diprioritaskan untuk dieliminasi, diperkuat
dengan keputusan WHO tahun 2000 mendeklarasikan “The Global Goal of
Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by the Year
2020”. Indonesia sepakat untuk memberantas filariasis sebagai bagian dari
eliminasi filariasis global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar